Minggu, 28 Februari 2016

cerpen


KEHILANGAN

Gadis itu hanya bisa  duduk terpaku dipojok kamar. Gadis itu meratapi nasibnya yang sangat memprihatinkan. Tiga jam yang lalu dia menyaksikan bagaimana tubuh kedua orang tuanya diselimuti oleh tanah yang dingin. Gadis itu bagai  di hujam ribuan pisau dari berbagai  arah… sakit… Sambil menenggelamkan mukanya diantara kedua lututnya , gadis itu menangis sesenggukan , tangan kanannya berada didadanya  dan sesekali di pukul dada itu.
Apa yang akan terjadi padanya ? Membayangkannya saja membuat dada Allesa begitu sakit. Kedua orang tuanya meninggalkan dia dan kakaknya tercinta. Andai saja itu tidak terjadi , pasti dia masih bercanda dengan dua orang yang paling  berharga dalam hidupnya. Tapi  Tuhan berkata lain. Tuhan mempunyai  jalan cerita yang berbeda dengan Allesa. Tuhan telah mengambil nyawa kedua orang tuanya. Tidak ada lagi seorang ibu yang selalu mempersiapkan makanan saat dirumah, tidak ada lagi yang akan memberikan nasehat untuknya. Semua itu tinggal kenangan  saja. Allesa sadar itu namun masih tidak terima dengan kenyataan yang ada.

   Di waktu yang sama , Alnendo sang kakak berdiri di depan pintu sambil memperhatikan Allesa yan sedang menangis. Melihatnya seperti ini membuat hatinya sakit,perih , sesak. Walaupun Alnendo tidak terlihat menitikkan air mata saait ini, tetapi didalam hatinya ia sangat sedih dan  sangat kehilangan.
Sudah lama Alnendo berdiri didepan pintu, akhirnya Alnendo mendekati Allesa yang masih terisak di tempat. Di peluknya Allesa untuk memberikan ketenangan dalam dirinya. Tetapi bukannya berhenti menangis  Allesa malah semakin terisak didalam pelukan sang kakak
“Kak..” Ucap Allesa di sela isakannya
“Kenapa Sa?” Jawab Alnendo sambal menguraikan pelukannya.
“Mamah sama Ayah kak hiks.., mereka udah ga ada hiks.. , mereka udah ninggalin kita kak, kita cuma berdua kak hikss” Allesa menangis dengan kerasnya.
“Kamu ga boleh ngomong gitu Sa, semua udah ada yang ngatur kita cuma bisa jalani hidup ini Sa, dan kakak yakin kamu tahu itu Sa. Siapa bilang kita cuma berdua , kamu lupa sama nenek Lian sama kakek Natan?? Mereka itu udah sama kita dari dulu Sa. Mungkin Allah punya rencana lain yang membuat kita bahagia?” Ucap Alnendo dengan suara yang sangat lembut sehingga Allesa bisa mendengarnya dengan tenang.
“Apa?! Bahagia kak?! Buat kita  bahagia?! Orang tua kita udah ga ada kak, gimana kita bisa bahagia kak?” Bentak  Allesa dengan suara yang keras. Alnendo terkejut dengan ucapan Allesa barusan , tidak seperti ini  Allesanya dia.
“Kamu ngomong apa sih Sa ? Kita bakalan bahagia kok sama  kakek nenek. Kita ambil hikmah dibalik semua ini Sa.” Alnendo  dengan sabar menjawab  ututgelamkan mukanya diantar  selimuti oleh tanah yang dingin. gadis bentakan Allesa tadi. Dia tahu adiknya ini masi terpukul dengan semua ini. Allesa pun hanya bisa diam memikirkan perkatann kakaknya itu. “Yaudah sekarang kamu istirahat  aja , kakak mau bantu bantu di bawah dulu.”Allesa pun menyangupi itu dengan anggukan.
Sesampainya dibawah Alnendo melihat sang  nenek tengah duduk sambil memeluk foto kedua orang tuanya. Mengesampingkan  niatannya tadi , Alnendo menghampiri nenek tercintanya dan memegang tangan neneknya dengan kasih saying. Nenek Lian pun memberikan senyuman yang mengandung banyak arti , ada rasa sedih , rasa kehilangan dan bangga karena ketegaran cuc laki-lakinya.
“Nenek jangan sedih terus dong, kalo nenek sedih yang kasih semangat Alnendo sama Allesa siapa?” Tanya Alnendo agar neneknya terhibur dan tidak merasa sedih lagi.
“Iya dong nek , kalo kamu sedih terus kan kamu bisa sakit.” Tiba-tiba ada suara berat yang menganggu Alnendo dan neneknya. Setelah di lihatnya ternyata sang Kakeklah yang berbicara. Walaupun sudah tua kakek neneknya memang sangat romantis.
“Iya nenek ga sedih lagi kok, gimana nenek mau sedih kalua orang  yang  nenek sayang  aja  pada perhatian sama nenek gini.” Nenek Lian pun membuka mulutnya dan menyunggingkan seulas senyum yang  sangat manis.
“Oh iya Allesa mana kok ga kelihatan dari tadi, nenek jadi khawatir.” Tanya nenek Lian tiba-tiba.
“Allesa ada dikamar kok nek, dari tadi nanggis terus , yaudah deh Alnendo suruh istirahat aja.” Jawab Alnendo sembari membalas senyuman neneknya.
“Yaudah nenek ke kamar Allesa dulu ya, kamu sama kakek bantu-bantu aja di sana”Titah sang nenek dan menunjuk kerumunan orang yang dating berlayat di depan rumah mereka.





Ceklek…..
Pintu kamar Allesa terbuka menampakkan seorang gadis yang sedang menatap nenek cantic itu dari atas tempat tidurnya. Gadis itu terlihat pucat , matanya sembab , hidungnya merah mungkin itu semua karena gadis itu terlalu banyak menangis, walaupun begitu ia tetap terlihat cantik dengan pakaiannya yang serba hitam. Dengan kasih saying dan perhatian yang penuh nenek Lian mendekati Allesa, dipeluknya gadis itu dan di belai rambutnya layaknya seorang ibu kepada anaknya.
“Kamu kok ngga tidur saying, bukannya udah suruh istirahat sama kakakmu?” Tanya nenek Lian semabri melepaskan pelukannya dan melihat kedua mata Allesa yang masih merah.
“Kak Alnendo cuma nyuruh  istirahat kok nggak nyuruh  Allesa tidur”  Jawab Allesa dengan polosnya. Allesa memeluk neneknya begitu erat seperti enggan kehilangan sang nenek. Allesa nyaman berada di pelukannya. Maklum saja selama ini Allesa memang hidup bersama nenek , kakek , dan keluarganya
“Loh … emang artinya istirahat itu apa, kalua ngga tidur? Kamu itu aneh.” Jawab   sang nenek sambal tersenyum melihat betapa polosnya cucu perempuannya ini. Setelah cukup lama Allesa memeluk neneknya dia tidak menjawb lagi pertanyaan dari neneknya. Setelah dilihat ternyata Allesa sudah tidur di dalam pelukan sang nenek. Dengan hati-hati sang nenek merubah posisi tidur Allesa yang pertama  ada di pelukannya sekarang sudah tidur di tempat tidurnya. Diamatinya Allesa dengan tatapan kasih saying. Tanpa nenek Lian sadari buliran bening itu keluar dari kelopak mtanya yang indah. Dengan cepat dihapusnya air mata itu. Akhirnya sang  nenekpu n ikut berbaring di tempat tidurnya Allesa.  
Allesa merasa ada yang tertidur di sebelahnya ,setelah dilihat ternyara sang nenek juga ikut tidur dengannya tadi. Dilihatnya wajah sang nenek yang masih tertidur lelap. Disentuhnya wajah sang nenek dengan segenap kasih saying yang ia punya. Tanpa sadar sang nenek sudah bangun dari  tidurnya, dengan cepat Allesa menarik tangannya dan ida menundukan kepalanya karena merasa bersalah sudah membuat sang nenek terbangun.
“Maaf nek, gara-gara Allesa nenek jadi bangun.”Ucap Allesa lirih. Nenek Lian pun mengangguk dan  memberikan senyuman manisnya kepada sang cucu.
“Allesa cucu nenek yang paling cantic kamu jangan sedih jangan nanggis terus ya , ayah dan mamahmu itu sudah bahagia di atas sana jadi kita relakan kepergiannya kamu boleh panggil nenek mamah jika kamu mau nenek akan menjadi mamahmu dan kakak akan menjadi ayahmu dan kamu tidak usah khawatir sayang  ada kakakmu juag yang sayang.” Ucap nenek Lian memberikan semangat kepada Allesa dan Allesa pun menangis tetpi tidak seperti waktu itu yang sampai sesenggukan. Allesa terharu mendengar ucaapan sang nenek. Allesa  jadi sadar sekarang , ia mempunyai banyak orang yang menyanginya.



Sudah satu tahun sejak kepergian kedua orang tua Allesa dan Alnendo. Berbeda dengan tahun lalu sekarang  Allesa sudah tidak bersedih lagi ia tumbuh menjadi remaja yang mandiri dan teguh. Allesa sekarang sudah menginjak kelas 3 SMA di Jakarta, sedangkan Alnendo sudah bersekolah di universitas ternama di Indonesia yaitu Universitas Indonesia.

Allesa pov ‘s

Hari ini tidak seperti biasanya nenek dan kakek menyuruh aku dan kakaku untuk pulang lebih awal. Kalau  menurutku pasti ada sesuatu yang akan di bicarakan.
Setelah pulang sekolah aku langsung pulang tanpa mengiraukan teman-temanku yang rebut karena tidak ikut hangout barsama mereka. Sekarang bagiku nenek dan kakeklah yang aku utamakan dan tak lupa kakak ku Alnendo. Sesampainya di rumah aku di sambuh tiga orang yang aku sayang saat ini. Kamipun menghabiskan makan siang bersama dan bercanda bersama. Setelah itu kami berkumpul bersama di ruang keluarga , entah mengapa perasaanku tidak enak. Tanpa basa-basi kakek memberikanku surat yang di depannya tertulis “untuk anakku Allesa” . Seketika aku merasa mataku memanas dan bisa kurasakan air mata k u tumpah padahal aku belum mengetahu apa isi dari surat ini yang aku tahu surat ini dari kedua orang tuaku.
“Buka Allesa.. “ Pinta kakek, dan dengan degup jantung yang begitu cepat aku membuka dan membacanya , betapa terkejutnya aku  setelah membaca surat itu , badanku terasa begitu lemas air mataku meluncur dengan bebasnya mengenai mukaku dan hati ini serasa sakit perih marah kecewa semua itu bercampur menjadi satu.
“Kamu kenapa Sa?” Tanya kak Aldo kepadaku tetapi  tidak ku respon pertanyaanya dan Kal Aldopun bertanya kepada kakek. “Inia da apa sih kek? Kenapa kakek sama nenek diam saja, kenapa Allesa nangis lagi?”Dengan cepat Kak Aldo merebut surat itu dan membacanya “ Ini maksudnya apa sih? Kenapa aku sama Allesa harus di jodohkan dan kami harus bertunangan? Dan kenapa di sini Allesa bukan anak kandung mamah sama ayah?” tanya Kak Aldo dengan nada orang terkejut dan frustasi. Akhirnya kakek pun angkat bicara dan menjelaskan bahwa sebenarnya aku memang bukan anak kandung dari mamah dan ayahku aku diadopsi dari panti asuhan dan mamah dan ayah inginkami bertunangan setelah aku lulus SMA kelak.
Entah hidup apa yang kujalani  ini, semua terasa berat bagiku dan menurutku ini semua tidak  adil bagiku. Aku tidak tahu apa yang kan terjadi selanjutnya atau kelak. Aku pasrah dengan semua ini. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.





Nama : Anggita Arliandari
Kelas  : X MIA 3/02    

2 komentar:

  1. Ayo, kan sudah berkali-kali diingatkan supaya melihat dulu contoh-contoh penulisan dialog dalam novel atau cerpen berkelas sastra. Kalau itu Anda lakukan, niscaya kesalahan dapat diminimalisasi.

    BalasHapus