KEHILANGAN
Gadis itu hanya
bisa duduk terpaku dipojok kamar. Gadis
itu meratapi nasibnya yang sangat memprihatinkan. Tiga jam yang lalu dia
menyaksikan bagaimana tubuh kedua orang tuanya diselimuti oleh tanah yang
dingin. Gadis itu bagai di hujam ribuan
pisau dari berbagai arah… sakit… Sambil
menenggelamkan mukanya diantara kedua lututnya , gadis itu menangis sesenggukan
, tangan kanannya berada didadanya dan
sesekali di pukul dada itu.
Apa
yang akan terjadi padanya ? Membayangkannya saja membuat dada Allesa begitu
sakit. Kedua orang tuanya meninggalkan dia dan kakaknya tercinta. Andai saja
itu tidak terjadi , pasti dia masih bercanda dengan dua orang yang paling berharga dalam hidupnya. Tapi Tuhan berkata lain. Tuhan mempunyai jalan cerita yang berbeda dengan Allesa.
Tuhan telah mengambil nyawa kedua orang tuanya. Tidak ada lagi seorang ibu yang
selalu mempersiapkan makanan saat dirumah, tidak ada lagi yang akan memberikan
nasehat untuknya. Semua itu tinggal kenangan
saja. Allesa sadar itu namun masih tidak terima dengan kenyataan yang
ada.
Di waktu yang sama , Alnendo sang kakak
berdiri di depan pintu sambil memperhatikan Allesa yan sedang menangis.
Melihatnya seperti ini membuat hatinya sakit,perih , sesak. Walaupun Alnendo
tidak terlihat menitikkan air mata saait ini, tetapi didalam hatinya ia sangat
sedih dan sangat kehilangan.
Sudah lama Alnendo
berdiri didepan pintu, akhirnya Alnendo mendekati Allesa yang masih terisak di
tempat. Di peluknya Allesa untuk memberikan ketenangan dalam dirinya. Tetapi
bukannya berhenti menangis Allesa malah
semakin terisak didalam pelukan sang kakak
“Kak..” Ucap Allesa di
sela isakannya
“Kenapa Sa?” Jawab
Alnendo sambal menguraikan pelukannya.
“Mamah sama Ayah kak
hiks.., mereka udah ga ada hiks.. , mereka udah ninggalin kita kak, kita cuma
berdua kak hikss” Allesa menangis dengan kerasnya.
“Kamu ga boleh ngomong
gitu Sa, semua udah ada yang ngatur kita cuma bisa jalani hidup ini Sa, dan
kakak yakin kamu tahu itu Sa. Siapa bilang kita cuma berdua , kamu lupa sama
nenek Lian sama kakek Natan?? Mereka itu udah sama kita dari dulu Sa. Mungkin
Allah punya rencana lain yang membuat kita bahagia?” Ucap Alnendo dengan suara
yang sangat lembut sehingga Allesa bisa mendengarnya dengan tenang.
“Apa?! Bahagia kak?!
Buat kita bahagia?! Orang tua kita udah
ga ada kak, gimana kita bisa bahagia kak?” Bentak Allesa dengan suara yang keras. Alnendo
terkejut dengan ucapan Allesa barusan , tidak seperti ini Allesanya dia.
“Kamu
ngomong apa sih Sa ? Kita bakalan bahagia kok sama kakek nenek. Kita ambil hikmah dibalik semua
ini Sa.” Alnendo dengan sabar
menjawab ututgelamkan mukanya diantar
selimuti oleh tanah yang dingin. gadis bentakan Allesa tadi. Dia
tahu adiknya ini masi terpukul dengan semua ini. Allesa pun hanya bisa diam
memikirkan perkatann kakaknya itu. “Yaudah sekarang kamu istirahat aja , kakak mau bantu bantu di bawah
dulu.”Allesa pun menyangupi itu dengan anggukan.
Sesampainya dibawah
Alnendo melihat sang nenek tengah duduk
sambil memeluk foto kedua orang tuanya. Mengesampingkan niatannya tadi , Alnendo menghampiri nenek
tercintanya dan memegang tangan neneknya dengan kasih saying. Nenek Lian pun
memberikan senyuman yang mengandung banyak arti , ada rasa sedih , rasa
kehilangan dan bangga karena ketegaran cuc laki-lakinya.
“Nenek jangan sedih
terus dong, kalo nenek sedih yang kasih semangat Alnendo sama Allesa siapa?”
Tanya Alnendo agar neneknya terhibur dan tidak merasa sedih lagi.
“Iya dong nek , kalo
kamu sedih terus kan kamu bisa sakit.” Tiba-tiba ada suara berat yang menganggu
Alnendo dan neneknya. Setelah di lihatnya ternyata sang Kakeklah yang
berbicara. Walaupun sudah tua kakek neneknya memang sangat romantis.
“Iya nenek ga sedih
lagi kok, gimana nenek mau sedih kalua orang
yang nenek sayang aja
pada perhatian sama nenek gini.” Nenek Lian pun membuka mulutnya dan
menyunggingkan seulas senyum yang sangat
manis.
“Oh iya Allesa mana
kok ga kelihatan dari tadi, nenek jadi khawatir.” Tanya nenek Lian tiba-tiba.
“Allesa ada dikamar
kok nek, dari tadi nanggis terus , yaudah deh Alnendo suruh istirahat aja.”
Jawab Alnendo sembari membalas senyuman neneknya.
“Yaudah
nenek ke kamar Allesa dulu ya, kamu sama kakek bantu-bantu aja di sana”Titah
sang nenek dan menunjuk kerumunan orang yang dating berlayat di depan rumah
mereka.
Ceklek…..
Pintu kamar Allesa
terbuka menampakkan seorang gadis yang sedang menatap nenek cantic itu dari
atas tempat tidurnya. Gadis itu terlihat pucat , matanya sembab , hidungnya
merah mungkin itu semua karena gadis itu terlalu banyak menangis, walaupun
begitu ia tetap terlihat cantik dengan pakaiannya yang serba hitam. Dengan
kasih saying dan perhatian yang penuh nenek Lian mendekati Allesa, dipeluknya gadis
itu dan di belai rambutnya layaknya seorang ibu kepada anaknya.
“Kamu kok ngga tidur
saying, bukannya udah suruh istirahat sama kakakmu?” Tanya nenek Lian semabri
melepaskan pelukannya dan melihat kedua mata Allesa yang masih merah.
“Kak Alnendo cuma
nyuruh istirahat kok nggak nyuruh Allesa tidur”
Jawab Allesa dengan polosnya. Allesa memeluk neneknya begitu erat
seperti enggan kehilangan sang nenek. Allesa nyaman berada di pelukannya.
Maklum saja selama ini Allesa memang hidup bersama nenek , kakek , dan
keluarganya
“Loh … emang artinya
istirahat itu apa, kalua ngga tidur? Kamu itu aneh.” Jawab sang nenek sambal tersenyum melihat betapa
polosnya cucu perempuannya ini. Setelah cukup lama Allesa memeluk neneknya dia
tidak menjawb lagi pertanyaan dari neneknya. Setelah dilihat ternyata Allesa
sudah tidur di dalam pelukan sang nenek. Dengan hati-hati sang nenek merubah
posisi tidur Allesa yang pertama ada di
pelukannya sekarang sudah tidur di tempat tidurnya. Diamatinya Allesa dengan
tatapan kasih saying. Tanpa nenek Lian sadari buliran bening itu keluar dari
kelopak mtanya yang indah. Dengan cepat dihapusnya air mata itu. Akhirnya
sang nenekpu n ikut berbaring di tempat
tidurnya Allesa.
Allesa merasa ada yang
tertidur di sebelahnya ,setelah dilihat ternyara sang nenek juga ikut tidur
dengannya tadi. Dilihatnya wajah sang nenek yang masih tertidur lelap.
Disentuhnya wajah sang nenek dengan segenap kasih saying yang ia punya. Tanpa
sadar sang nenek sudah bangun dari
tidurnya, dengan cepat Allesa menarik tangannya dan ida menundukan
kepalanya karena merasa bersalah sudah membuat sang nenek terbangun.
“Maaf nek, gara-gara
Allesa nenek jadi bangun.”Ucap Allesa lirih. Nenek Lian pun mengangguk dan memberikan senyuman manisnya kepada sang
cucu.
“Allesa
cucu nenek yang paling cantic kamu jangan sedih jangan nanggis terus ya , ayah
dan mamahmu itu sudah bahagia di atas sana jadi kita relakan kepergiannya kamu
boleh panggil nenek mamah jika kamu mau nenek akan menjadi mamahmu dan kakak
akan menjadi ayahmu dan kamu tidak usah khawatir sayang ada kakakmu juag yang sayang.” Ucap nenek
Lian memberikan semangat kepada Allesa dan Allesa pun menangis tetpi tidak
seperti waktu itu yang sampai sesenggukan. Allesa terharu mendengar ucaapan
sang nenek. Allesa jadi sadar sekarang ,
ia mempunyai banyak orang yang menyanginya.
Sudah satu tahun sejak
kepergian kedua orang tua Allesa dan Alnendo. Berbeda dengan tahun lalu
sekarang Allesa sudah tidak bersedih
lagi ia tumbuh menjadi remaja yang mandiri dan teguh. Allesa sekarang sudah
menginjak kelas 3 SMA di Jakarta, sedangkan Alnendo sudah bersekolah di
universitas ternama di Indonesia yaitu Universitas Indonesia.
Allesa pov ‘s
Hari ini tidak seperti
biasanya nenek dan kakek menyuruh aku dan kakaku untuk pulang lebih awal.
Kalau menurutku pasti ada sesuatu yang
akan di bicarakan.
Setelah pulang sekolah
aku langsung pulang tanpa mengiraukan teman-temanku yang rebut karena tidak
ikut hangout barsama mereka. Sekarang
bagiku nenek dan kakeklah yang aku utamakan dan tak lupa kakak ku Alnendo.
Sesampainya di rumah aku di sambuh tiga orang yang aku sayang saat ini. Kamipun
menghabiskan makan siang bersama dan bercanda bersama. Setelah itu kami
berkumpul bersama di ruang keluarga , entah mengapa perasaanku tidak enak.
Tanpa basa-basi kakek memberikanku surat yang di depannya tertulis “untuk anakku Allesa” . Seketika aku
merasa mataku memanas dan bisa kurasakan air mata k u tumpah padahal aku belum
mengetahu apa isi dari surat ini yang aku tahu surat ini dari kedua orang
tuaku.
“Buka Allesa.. “ Pinta
kakek, dan dengan degup jantung yang begitu cepat aku membuka dan membacanya ,
betapa terkejutnya aku setelah membaca
surat itu , badanku terasa begitu lemas air mataku meluncur dengan bebasnya
mengenai mukaku dan hati ini serasa sakit perih marah kecewa semua itu
bercampur menjadi satu.
“Kamu kenapa Sa?”
Tanya kak Aldo kepadaku tetapi tidak ku
respon pertanyaanya dan Kal Aldopun bertanya kepada kakek. “Inia da apa sih
kek? Kenapa kakek sama nenek diam saja, kenapa Allesa nangis lagi?”Dengan cepat
Kak Aldo merebut surat itu dan membacanya “ Ini maksudnya apa sih? Kenapa aku
sama Allesa harus di jodohkan dan kami harus bertunangan? Dan kenapa di sini
Allesa bukan anak kandung mamah sama ayah?” tanya Kak Aldo dengan nada orang
terkejut dan frustasi. Akhirnya kakek pun angkat bicara dan menjelaskan bahwa
sebenarnya aku memang bukan anak kandung dari mamah dan ayahku aku diadopsi
dari panti asuhan dan mamah dan ayah inginkami bertunangan setelah aku lulus
SMA kelak.
Entah hidup apa yang
kujalani ini, semua terasa berat bagiku
dan menurutku ini semua tidak adil
bagiku. Aku tidak tahu apa yang kan terjadi selanjutnya atau kelak. Aku pasrah
dengan semua ini. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.
Nama : Anggita Arliandari
Kelas : X MIA 3/02